News

Ternyata Ini Efek Jika Terlalu Lama Sendiri Menurut Studi

TOTOGEL – Bagi orang yang suka menyendiri, isolasi sosial saat lockdown COVID-19 tidak memberi efek yang begitu berarti. Namun, bagi orang yang terbiasa dengan kontak sosial, isolasi bisa membuat efek lain yang bisa muncul.
Tidak bisa dipungkiri, bahwa dunia telah membentuk karakter sosial yang baru pascapandemi COVID-19. Isolasi sosial yang berkepanjangan membuat banyak orang semakin menurun kontak sosialnya dibanding sebelum terjadi pandemi.

Bagaimana Dampak Isolasi Sosial?

Melansir laman Universitas Wina, Austria, terdapat sebuah studi yang dilakukan di laboratorium selama lockdown COVID-19.

Partisipan melaporkan mereka mengalami tingkat kelelahan yang lebih tinggi setelah melakukan delapan jam isolasi sosial.
Hasil studi menunjukkan bahwa rendahnya energi dapat menjadi respons manusia yang mendasar terhadap kurangnya kontak sosial.

Studi yang diterbitkan di Psychological Science ini juga menunjukkan bahwa respons ini dipengaruhi oleh sifat kepribadian sosial partisipan.

Peneliti menemukan respons yang mirip dengan ketika manusia tidak makan untuk waktu yang lama maka beberapa proses biologis akan terjadi dan menciptakan sensasi keinginan yang dikenal sebagai lapar.
Sebagai makhluk sosial, tentunya manusia juga membutuhkan orang lain untuk bertahan hidup.

Bukti menunjukkan bahwa kurangnya kontak sosial memicu respons keinginan di otak yang serupa dengan lapar sehingga memotivasi untuk kembali melakukan kontak sosial untuk memenuhi sensasi tersebut.

Hipotesis terkait homeostasis sosial menunjukkan bahwa ada sistem homeostatik yang didedikasikan secara otonom untuk mengatur kebutuhan manusia akan kontak sosial.
Namun, pengetahuan akan respons psikologis terhadap isolasi sosial sejauh ini masih sangat minim.

Selain itu, peneliti juga tidak tahu bagaimana temuan ini diterjemahkan ke isolasi sosial yang dialami dalam kehidupan sehari-hari termasuk ke dalam konteks unik dari lockdown COVID-19.

Studi Terhadap Isolasi Sosial: Kehilangan Energi-Kelelahan

Kelompok ilmuwan yang dipimpin oleh Giorgia Silani dari Universitas Wina menyelidiki efek isolasi sosial dengan menggunakan metodologi yang sama dalam dua konteks, yaitu di laboratorium dan di rumah selama lockdown COVID-19.

Studi tersebut melibatkan 30 sukarelawan perempuan yang datang ke laboratorium dalam tiga hari terpisah. Mereka menghabiskan delapan jam tanpa kontak sosial atau tanpa makan atau tanpa keduanya.

Beberapa kali sepanjang hari mereka menunjukkan tingkat stres, suasana hati dan kelelahan. Sementara para ilmuwan juga merekam respon stres fisiologi seperti detak jantung dan kartisol.

Validasi akan hasil studi tersebut dilakukan dengan cara membandingkan hasilnya dengan pengukuran dari studi yang dilakukan selama lockdown di Austria dan Italia pada musim semi 2020.

Melalui studi ini, mereka menggunakan data dari 87 partisipan yang telah menghabiskan periode isolasi delapan jam atau lebih dan efek stres serta perilaku mereka dinilai dengan pengukuran yang sama beberapa kali sehari dalam tujuh hari.

Penulis pertama studi ini yaitu Ana Stijovic dan Paul Forbes mengungkapkan bahwa mereka menemukan kesamaan mencolok antara isolasi sosial dan kelaparan.

“Kedua keadaan tersebut menyebabkan penurunan energi dan peningkatan kelelahan yang mengejutkan mengingat kelaparan sebenarnya membuat kita kehilangan energi sementara isolasi sosial tidak” tutur penulis.